Dandi Maryadi (2) terus menangis di pelukan ibunya, Rani Sofiani.
Tepukan pelan maupun buaian sang ibu tidak berhasil meredakan raungan
tangisnya yang memenuhi bangsal perawatan kelas III di RS Sariningsih
Bandung, Sabtu (24/3/2012).
Dilihat lebih jelas, ada yang berbeda
dari bocah yang masih saja menangis ini. Perutnya membusung kencang,
berwarna putih dengan urat kebiruan yang tersebar di berbagai lokasi.
Bila dibandingkan dengan anggota badan yang lainnya, perut Dandi
mengembang jauh lebih besar. Itulah yang membuatnya terus-terusan
menangis, karena perutnya tertekan.
Sang ibu berujar, Dandi
memiliki tumor di perutnya. Kondisi itu terjadi setelah dia berumur satu
tahun. Padahal, sewaktu lahir dengan bobot 4 kilogram pada tanggal 8
November 2009, anak pertama Rani ini tidak menunjukkan gejala yang aneh.
Keluarga tersebut merupakan warga Kampung Walahir, Desa Cintadamai,
Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Garut.
Ayah Dandi, Ajay,
menuturkan, selain tumor, perut Dandi membusung besar karena berisi
cairan. Berdasarkan penjelasan dokter, tumor Dandi juga memiliki
kantong, sehingga menampung cairan dan mengakibatkan perutnya terus
membesar. Tidak cukup itu, pemeriksaan lebih lanjut menunjukkan bahwa
tumor sudah mencapai kepala Dandi dan mengakibatkan separuh badannya
sulit digerakkan.
"Dandi tidak bisa makan padat, akhirnya hanya
mendapatkan susu UHT saja," ujar Ajay sambil menunjukkan bibir Dandi
yang kering dan mengelupas.
Saat ini, Dandi tengah menanti operasi
di RS Sariningsih. Ajay mengungkapkan bahwa operasi tersebut bakal
menelan biaya Rp 15 juta hanya untuk menyedot cairan sekaligus
mengangkat tumor di perut. Dia mengaku sudah menyetujui tindakan operasi
meski masih kebingungan soal biayanya.
Kompas.com



0 comments:
Please comment and your comments are very useful for the development of this blog. Do not forget to comment ethics, and do not waste time trying to spam. Thank You!