Showing posts with label Economics. Show all posts
Showing posts with label Economics. Show all posts

Friday, May 18, 2018

Defisit APBN Turun Jadi Rp55,1 Triliun

Defisit APBN Turun Jadi Rp55,1 Triliun


JAKARTA–Defisit APBN sampai dengan 30 April 2018 tercatat Rp55,1 triliun. Angka ini mengalami perbaikan jika dibandingkan dengan periode sama tahun 2017 tercatat Rp72,2 triliun dan pada 2016 yang mengalami defisit Rp158,2 triliun. 

”Realisasi defisit APBN sebesar Rp55,1 triliun, turun dibandingkan periode sama pada tiga tahun terakhir. Dengan defisit yang kecil, kita mencapai keseimbangan primer surplus Rp24,2 triliun. Ini naik dibanding keseimbangan primer tahun lalu yang hanya Rp3,7 triliun,” kata Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati di Jakarta, kemarin. 

Menurut Menkeu, realisasi APBN 2018 sampai dengan 30 April 2018 menunjukkan capaian lebih baik. Hal ini dilihat dari penerimaan perpajakan, bea dan cukai, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), belanja kementerian/ lembaga, serta transfer ke daerah yang diperkuat tata kelolanya. 

Pemerintah, kata Sri Mulyani, tetap konsisten menjaga APBN secara hati-hati dan efektif namun tetap mendukung perekonomian. ”Ini konsisten pemerintah menjaga kebijakan utang yang selama ini sering dijadikan sorotan oleh beberapa pihak,” ujarnya. 

Sri Mulyani memaparkan, realisasi penerimaan pendapatan negara dan hibah mencapai Rp527,82 triliun atau telah terealisasi 27,86% dari target APBN 2018. Realisasi itu terdiri dari penerimaan perpajakan Rp416,93 triliun, PNBP sebesar Rp109,91 triliun, dan hibah Rp0,99 triliun atau masing-masing telah mencapai 25,77%, 39,90%, dan 83,24% dari target APBN 2018. 

Hingga akhir April 2018, pertumbuhan sumber penerimaan pendapatan negara dari perpajakan dan PNBP berturut- turut, yaitu penerimaan tumbuh 11,19% dan PNBP tumbuh 21,02% secara year-onyear (yoy). ”Penerimaan negara sampai akhir April 2018 mengalami perbaikan yang signifikan, begitu juga di belanja dan pembiayaan,” ujarnya. 

Secara lebih rinci penerimaan perpajakan sampai dengan akhir April 2018 terdiri dari penerimaan pajak Rp383,27 triliun serta penerimaan kepabeanan dan cukai Rp33,66 triliun atau masingmasing telah terealisasi 26,91% dan 17,34% dari target APBN 2018. 

Pertumbuhan penerimaan PPh nonmigas sampai dengan akhir April 2018 masih didominasi penerimaan pajak atas impor yang tumbuh mencapai 25,34% yoy Terutama dari PPh pasal 22 impor (28,96%) dan PPh Pasal 25/29 Badan tumbuh hingga 23,55% yoy. 

Penerimaan PPh Badan tidak lepas dari tingginya pertumbuhan PPh Pasal 29 mencapai 28,57% yoy, yang merupakan cerminan kinerja keuangan perusahaan pada 2017. ”Penerimaan dari PPh Badan yang meningkat telah memperlihatkan adanya kegiatan ekonomi menguat, karena tidak mungkin ada pembayaran pajak apabila tidak ada aktivitas meningkat,” katanya. 

Dari sisi belanja negara juga mengalami kenaikan. Realisasi belanja negara sampai dengan akhir April 2018 sebesar Rp582,94 triliun, meningkat 8,33% jika dibandingkan realisasi April tahun lalu. Rinciannya belanja pemerintah pusat sebesar Rp331 triliun atau sudah 22,8% dari target Rp1.454,5 triliun. 

”Belanja K/L mencapai Rp165,9 triliun sudah dibelanjakan sampai 30 April. Tahun lalu pada periode sama kita belanjakan Rp135,1 triliun. Jadi secara persentase kita jauh lebih tinggi, sudah mendekati 20% dari tahun lalu yang 16,9%,” kata Sri Mulyani. 

Pengamat ekonomi dari Institute for Develompent of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira mengatakan, salah satu implikasi untuk mengendalikan defisit anggaran adalah penyerapan anggaran hingga April menjadi kurang maksimal. ”SILPA-nya cukup besar dibanding posisi sama tahunsebelumnya. 

PosisiSILPA sampai April tahun ini adalah Rp133,6 triliun, dibandingkan tahun lalu, yakni Rp123,2 triliun atau ada selisih Rp10,4 triliun lebih besar,” ujarnya. Menurut dia, dampak lainnya dengan serapan anggaran kurang optimal, maka kontribusi belanja pemerintah pada kuartal I/2018 hanya 6,31% terhadap PDB lebih rendah dari kuartal I/2017, yakni 6,56% dan pertumbuhan belanja pemerintah hanya 2,7%. 

oktiani endarwati 

Monday, April 16, 2018

Menkeu Yakin Kinerja Perdagangan Tahun Ini Positif

Menkeu Yakin Kinerja Perdagangan Tahun Ini Positif

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati merespons positif kinerja perdagangan Indonesia pada kuartal pertama 2018. Ia menilai, kinerja ekspor akan menunjukkan hal positif seiring dengan penguatan ekonomi dunia.

Meski begitu, Sri juga tetap mewaspadai potensi guncangan dari perang dagang dan isu geopolitik. "Apa ini sustain? Semua prediksi lembaga ekonomi global menunjukkan pertumbuhan 3,9 persen bahkan ada yang 4,1 persen. Ini menunjukkan pertumbuhan ekonomi dunia menguat. Diharapkan demand terhadap berbagai komoditas di Indonesia juga meningkat," ujar Sri di Jakarta, Senin (16/4).

Sri mengatakan, kinerja ekspor turut mendorong penerimaan bea keluar pada kuartal pertama 2018 yang sebesar Rp 1,43 triliun atau sebesar 47,7 persen dari target APBN 2018. Pertumbuhannya bahkan mencapai 70,38 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 

Ini menjadi angka pertumbuhan tertinggi dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Kinerja pertumbuhan tersebut terutama disebabkan oleh kontribusi bea keluar dari ekspor komoditas mineral dan batu bara yang secara total tumbuh 261,32 persen pada kuartal pertama 2018. "Ekspor kita juga sudah mengalami diversifikasi. Jadi prediksinya akan tetap kita jaga," ujar Sri.

Meski begitu, Sri tetap memantau dinamika perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina. Selain itu, faktor penyerangan AS terhadap Suriah juga akan dicermati terutama pengaruhnya pada harga minyak dunia.

"Untuk Indonesia komoditas akan dapat keuntungan dari sisi momentum harga dan permintaan meningkat. Tapi jangan lengah karena kemungkinan shock itu tidak pakai pendahuluan. Jadi harus tetap jaga terhadap kemungkinan itu,” ujar Sri. 

ad Fikri Noor/ Red: Citra Listya Rini

Pemerintah Bayar Tunggakan Subsidi Energi Hingga Rp 9,3 T

Pemerintah Bayar Tunggakan Subsidi Energi Hingga Rp 9,3 T

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Askolani mengatakan, pemerintah telah membayar tunggakan subsidi energi pada 2017 sebesar Rp 9,3 triliun. Subsidi dibayarkan kepada dua BUMN yakni Pertamina dan PLN untuk kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM), elpiji 3 kilogram, dan listrik.

"Subsidi energi 2018 ini sampai kuartal pertama, Menteri Keuangan sudah membayar tunggakan tahun sebelumnya sebesar Rp 9,3 triliun. Untuk BBM dan elpiji 3 kilogram sebesar Rp 6,3 triliun, untuk PLN Rp 3 triliun," ujar Askolani di Jakarta, Senin (16/4).

Askolani merinci, total belanja subsidi energi hingga akhir Maret 2018 mencapai Rp 25,3 triliun atau 16,19 persen dari total alokasi anggaran dalam APBN 2018 yang sebesar Rp 156,23 triliun.Belanja subsidi untuk BBM dan elpiji 3 kilogram adalah sebesar Rp 15,6 triliun dan untuk listrik sebesar Rp 9,6 triliun.

Belanja subsidi pada periode yang sama tahun lalu adalah sebesar Rp 12,3 triliun atau terserap sebesar 7,3 persen dari total pagu anggaran sebesar APBNP 2017 sebesar Rp 168,9 triliun.Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pertumbuhan belanja subsidi meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun lalu. "Ini yang harus diwaspadai," ujar Sri.

Pada kuartal pertama 2018, total belanja pemerintah pusat adalah sebesar Rp 233,95 triliun atau 16,08 persen dari pagu anggaran sebesar Rp 1.454,5 triliun. Realisasi belanja Kementerian/Lembaga (K/L) mencapai Rp 103,14 triliun atau mencapai 12,17 persen dari pagu anggaran Rp 847,4 triliun.

Menkeu menyoroti realisasi penyerapan untuk bantuan sosial yang lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Realisasi belanja bansos hingga akhir Maret 2018 adalah sebesar Rp 17,9 triliun meningkat 87 persen dibandingkan belanja tahun lalu yang hanya Rp 9,5 triliun. Dari sisi penyerapan, realisasi belanja bansos mencapai 23,2 persen sementara tahun lalu pada periode yang sama hanya 17,5 persen.

"Ini kita harapkan bisa membuat masyarakat mendapat momentum pertumbuhan yang positif dan masyarakat yang rentan bisa mendapatkan bansos serta perlindungan negara," ujarnya.

Rep: Ahmad Fikri Noor/ Red: Nur Aini

Friday, June 22, 2012

Lima Kunci Sukses Jadi Pengusaha

Lima Kunci Sukses Jadi Pengusaha

Banyak orang takut memulai usaha, karena takut gagal atau takut tidak punya modal. Hermas Puspito dari ELC Digital Company mengungkapkan, ada lima poin yang harus Anda lakukan untuk menjadi pengusaha.

Berikut lima langkah yang harus Anda jalankan untuk mulai jadi seorang entrepreneur:

1. Jaringan

Menjadi seorang pengusaha harus mempunyai relasi yang luas dan banyak. "Kita tidak bisa membuka usaha kalau tidak bisa melakukan networking," katanya dalam Entrepreneurship Festival, di Jakarta, Jumat 22 Juni 2012.

Memperbanyak jaringan menjadi sangat penting bagi perluasan usaha Anda. Setiap orang dapat menjadi potensi sebagai konsumen atau bekerja sama dalam mengembangkan bisnis.

2. Persiapan mentalBanyak orang yang takut memulai usaha, ini karena dalam pikirannya sudah tertanam mental takut gagal atau bingung memulai usaha. Ada juga orang yang memiliki mental jika ingin membuka usaha harus memiliki rencana bisnis yang sempurna.

Rencana bisnis diperlukan, namun tidak harus sempurna karena dapat disempurnakan ketika bisnis telah berjalan. Seorang pengusaha harus memiliki mental fokus dan disiplin. Dua hal ini diperlukan untuk menjalankan rencana bisnis yang telah dipersiapkan.

"Kalau mentalnya harus sempurna, kapan mulai bisnisnya?" katanya.

3. ModalModal merupakan salah satu faktor penting dalam memulai bisnis. Banyak orang ingin memulai usaha, namun tak mempunyai modal sehingga tidak jalan. Padahal, untuk memulai usaha bisa dilakukan tanpa modal.

Modal terbagi menjadi tiga, modal sendiri, mencari modal dari investor atau bank, dan modal partnership. Modal sendiri dapat diraih dengan cara menabung, atau bisa juga memulai bisnis sendiri dengan tanpa modal seperi menjadi reseller (pengecer) sebuah barang.

"Reseller itu entrepreneur tahap satu, yang pelan-pelan naik jadi wirausaha sendiri," katanya.

Sedangkan untuk modal dari investor atau bank, dibutuhkan perencanaan bisnis yang baik. Serta modal ketiga adalah partnership, yaitu menggunakan aset yang sudah ada sebagai modal bekerja sama dengan orang lain. "Seperti, memanfaatkan rumah untuk menjual barang yang dititipkan," ujar Hermas.

4. MarketingSeorang pengusaha harus mengetahui kelebihan produk yang membedakan dengan barang sejenis. Setelah itu, dipadukan dengan promosi yang menarik sehingga dapat menarik orang untuk membeli produk. Marketing juga dapat dipadukan dengan networking, sehingga menjadi komunikasi marketing yang terintegrasi.

"Harga dipadu dengan promosi, seperti 50 orang pembeli pertama dapat potongan, atau bisa juga menawarkan produk ke orang-orang yang kita kenal," katanya.

Kehadiran media sosial bisa jadi strategi marketing tersendiri. Ia menjelaskan, kehadiran media sosial dapat digunakan seorang entrepreneur untuk membangun komunitas. Komunitas dapat diarahkan untuk membuat acara yang terkait dengan produknya.

"Media sosial sekarang ini bisa menjadi marketing rendah biaya, bahkan tanpa modal, hanya cukup sambungan internet," katanya. Ia menyarankan bagi pengguna Twitter, jangan hanya berkicau produknya tapi juga memberi informasi yang berguna bagi follower.

5. Mulailah sekarangKeempat langkah tadi tidak akan jalan jika tidak dimulai sekarang. Dalam menjalankan bisnis seorang pengusaha harus terus mengembangkan diri dengan membaca buku dan mendatangi seminar-seminar pengusaha untuk memotivasi diri.

"Jangan lupa mulai rajin berdoa, karena kesuksesan datang dari Tuhan," katanya. (asp)

Saturday, June 16, 2012

1 Januari 2013, Aturan "Transaction Alert" Kartu Kredit Diberlakukan

1 Januari 2013, Aturan "Transaction Alert" Kartu Kredit Diberlakukan

Penerbit kartu kredit wajib memberitahu pemegang kartu kredit terkait transaksi yang memenuhi sejumlah kriteria melalui transaction alert. Ketentuan ini paling lambat diimplementasikan oleh penerbit kartu kredit pada 1 Januari 2013.

"Dengan alert system dicek bener enggak ibu melakukan ini. Jangan sebal karena itu aturan BI," kata Kepala Grup Hubungan Masyarakat Bank Indonesia, Difi A Johansyah, dalam diskusi dengan wartawan di Kantor Bank Indonesia, Jakarta
.
Menurut aturan Bank Indonesia mengenai penyelenggaraan kegiatan alat pembayaran menggunakan kartu (APMK), penerbit kartu kredit harus memberitahu pemegang kartu terkait sejumlah transaksi. Kriteria pertama, pemegang kartu wajib diberitahu bila transaksi terjadi di pedagang yang menurut penerbit memiliki risiko tinggi.

Kedua, transaksi terjadi dalam jumlah atau nilai yang besar atau menyimpang dari profil transaksi pemegang kartu kredit. Ketiga, transaksi terjadi berkali-kali di pedagang yang berbeda lokasi dalam waktu yang relatif singkat.

Keempat, pemegang kartu kredit wajib diberitahu bila transaksi terjadi berkali-kali di pedagang yang sama untuk pembayaran pembelanjaan barang atau jasa yang sama.

Penyampaian informasi bisa dilakukan penerbit kartu melalui layanan pesan singkat atau sarana telekomunikasi lain berdasarkan pilihan pemegang kartu kredit. Penerbit pun harus mencantumkan nomor kontak yang bisa dihubungi dalam transaction alert. Ini semata untuk memberikan kemudahan pemegang kartu dalam merespons informasi.

Bank Indonesia baru saja menerbitkan aturan teknis mengenai kartu kredit. Aturan itu dituangkan dalam Surat Edaran Bank Indonesia No 14/ 17 /DASP perihal Perubahan atas Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 11/10/DASP perihal Penyelenggaraan Kegiatan Alat Pembayaran dengan Menggunakan Kartu.

Dalam SE ini, BI mengatur mekanisme pembatasan jumlah kartu kredit berdasarkan minimum pendapatan nasabah tiap bulan sebesar Rp 3 juta-Rp 10 juta. Mekanismenya, jumlah penerbit kartu kredit yang dapat memberikan fasilitas kartu kredit kepada seorang pemegang kartu adalah maksimal hanya dua penerbit. Selain itu, jumlah maksimal plafon kredit secara kumulatif yang dapat diberikan kepada seorang pemegang kartu kredit adalah tiga kali pendapatan tiap bulan pemegang kartu kredit.