Showing posts with label Health. Show all posts
Showing posts with label Health. Show all posts

Saturday, May 12, 2018

Studi: Orang dengan Tubuh Gemuk Lebih Bahagia

Studi: Orang dengan Tubuh Gemuk Lebih Bahagia

Orang yang memiliki tubuh gemuk ternyata lebih bahagia dari
mereka yang memiliki bentuk tubuh ideal. 

JAKARTA - Tubuh yang gemuk kerap dihindari banyak orang, khususnya wanita. Alasannya dinilai tidak menarik. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa orang dengan tubuh gemuk lebih bahagia dibandingkan orang bertubuh kurus.

Dilansir Elite Daily, saat orang bertubuh kurus mengejek orang dengan tubuh gemuk, tanpa disadari merekalah yang menyedihkan. Pasalnya, orang dengan tubuh gemuk dapat mencicipi berbagai macam makanan lezat dengan bahagia menikmati makanan karena tidak memiliki tuntutan untuk tampil kurus.

Sedangkan orang dengan tubuh kurus harus menjaga asupan makanan agar dapat mempertahankan berat badan. Peneliti dari McMaster University di Kanada menemukan orang-orang gemuk ternyata lebih bahagia dibandingkan orang kurus. Ini karena mereka tidak merasakan depresi karena tuntutan berat badan.

Artinya orang dengan tubuh gemuk memiliki kehidupan yang lebih baik dan menyenangkan. Penelitian ini melibatkan 17.200 sampel DNA responden bertubuh gemuk di 21 negara. Hasilnya ditemukan, bahwa mereka yang sebelumnya menunjukkan tanda-tanda depresi secara signifikan lebih sedikit.

"Kami berangkat mulai dari hipotesis depresi dan obesitas berhubungan dengan aktivitas otak. Kami berhipotesis gen obesitas mungkin terkait dengan depresi," tutur Profesor David Meyre.

(tdy)

Wednesday, April 18, 2018

Diet Sukses: Buah yang Harus Dihindari Biar Kurus

Diet Sukses: Buah yang Harus Dihindari Biar Kurus

Bintang.com, Jakarta Buah-buahan selama ini dikenal dengan makanan yang sehat. Bahkan, buat cewek yang melakuka diet, banyak yang menyarankan untuk mengonsumsi banyak buah dan sayuran. 

Kaya akan vitamin, ternyata buah juga kaya akan gula alami. Gula alami ini memang sehat, tapi buat kamu yang ingin menurunkan berat badan, rasanya harus memikirkannya kembali. 

Dilansir dari Mind Body Green, buah juga sering disebut sengan natural candy. Karena, sebagian buah mengandung banyak gula natural. Sehingga, bisa mengganggu atau menghambat proses dietmu. 

Makanya, ada beberapa buah yang harusnya kamu hindari selama melakukan diet. Dihindari, ya! Bukan benar-benar nggak boleh sama sekali. Terus, apa saja buah yang harus kamu waspadai? 

1. Salad buah

Salad buah sering banget jadi menu andalan buat kamu yang ingin melakukan diet. Padahal salad buah ini bikin kamu kebanyakan makan buah. Terlalu banyak makan buah, berarti kamu kebanyakan mengonsumsi gula. Meskipun itu gula alami. 

2. Jus Buah

Meskipun jus buah tanpa gula tambahan dan juga susu kental manis serta cokelat dikenal sangat sehat, tapi ternyata ada sisi negatif dari jus buah yang nikmat dan menyegarkan. Jus buah ternyata mengandung sedikit serta, vitamin, dan mineral, dibandingkan dengan buah utuh. 

Padahal, kamu yang sedag berdiet membutuhkan banyak serat untuk memperlambat penyerapan gula pada tubuh. Juga membantu memperlancar pencernaan dan mengurangi adanya konstipasi. 
3. Buah Kering
Pernah dengar nasihat "makan saja buah kering sebagai camilan" untuk tips diet? Duh, ini tips yang sebenarnya menjebak. Soalnya, buah kering mengandung banyak gula tambahan. 
Jadi, kamu harus makan buah yang benar-benar utuh dan segar. Hindari juga buah-buahan yang diimpor dari luar negeri, karena banyak yang mengandung zat pengawet. 

Cukup dengan 1 Apel, Kamu Bebas dari Diabetes

Cukup dengan 1 Apel, Kamu Bebas dari Diabetes

Bintang.com, Jakarta Apel merupakan salah satu buah yang kaya akan vitamin dan manfaat untuk tubuh. Menurut sebuah pedoman kesehatan baru, apel mampu mencegah diabetes hanya dengan mengonsumsi satu buah ini per hari. 

Dilansir dari Natural News, Senin (16/4/2018), peneliti dari Universitas Oxford dan organisasi diabetes UK menemukan pedoman baru yang disusun berdasarkan bukti dari 500 penelitian ilmiah.
Pakar diet asal Universitas Oxford, Pamela Dyson mengungkapkan pedoman tersebut dibuat untuk memudahkan peneliti mengomunikasikan pada orang banyak soal makanan yang mengandung nutrisi.

Sebelumnya, mereka yang berisiko terkena diabetes hanya dianjurkan untuk meningkatkan asupan serat 15 persen atau menurunkan berat badan sebanyak 5 persen.

Namun demikian, panduan baru tersebut menyarankan untuk makan lebih banyak biji-bijian, buah seperti apel, anggur, dan sayuran hijau. Selain itu, Anda juga dapat mengonsumsi produk susu, seperti yogurt dan keju, serta teh dan kopi.

Tak hanya itu, pedoman dari Universitas Oxford menyarankan Anda untuk membatasi konsumsi daging olahan, minuman manis, kentang olahan, roti dan nasi putih. Orang dengan risiko tinggi diabetes juga dapat melakukan aktivitas fisik.

Ibu hamil rentan kena diabetes jenis ini

Selama ini mungkin Anda hanya mengenal dua jenis penyakit diabetes, yakni tipe-1 dan 2. Penyakit diabetes yang mungkin tidak Anda kenali, yaitu diabetes gestasional. Jenis ini dialami beberapa wanita pada masa kehamilan.

Umumnya, penyakit diabetes ini dialami mereka hanya pada masa kehamilan, dan kemudian hilang setelah melahirkan. Namun demikian, mereka yang mengalaminya akan berisiko mengalami diabetes tipe-2 di kemudian hari.


Penulis: Aretyo Jevon Perdana
Sumber: Liputan6.com
Ini Dampak Media Sosial pada Anak

Ini Dampak Media Sosial pada Anak

WASHINGTON - Tidak sedikit anak-anak yang menghabiskan waktu di platform media sosial, seperti Facebook, Instagram, dan Snapchat. Sayang, kebiasaan itu disebut-sebut  memiliki efek negatif.

Sebuah studi baru menemukan bahwa penggunaan medsos memiliki efek yang berbeda pada kesejahteraan untuk anak remaja.

Para peneliti di University of Essex dan UCL menemukan hubungan antara peningkatan waktu yang dihabiskan di medsos pada awal masa remaja usia 10 dan berkurangnya kesejahteraan di masa remaja usia 10-15 tahun dan hal ini lebih banyak terjadi pada remaja perempuan.

"Temuan kami menunjukkan bahwa penting untuk memantau interaksi awal dengan medsos, terutama pada anak perempuan. Karena ini dapat berdampak pada kesejahteraan di masa remaja dan mungkin sepanjang masa dewasa," kata salah satu peneliti, Booker seperti dilansir Zeenews.

Para peneliti menemukan bahwa remaja wanita menggunakan media sosial lebih banyak daripada anak laki-laki. Pada usia 13 tahun, sekitar setengah anak wanita berinteraksi di medsos selama lebih dari 1 jam per hari, dibandingkan dengan sepertiga anak laki-laki.

Pada usia 15 tahun, kedua jenis kelamin meningkatkan penggunaan media sosial mereka, tapi anak perempuan terus menggunakan medsos lebih dari anak laki-laki, dengan 59% anak perempuan dan 46% anak laki-laki berinteraksi selama 1 jam atau lebih per hari.

Pada studi yang telah dipublikasikan di jurnal akses terbuka BMC Public Health ini, kesejahteraan tampaknya menurun sepanjang masa remaja, baik pada anak laki-laki maupun perempuan, sebagaimana tercermin dalam skor untuk kebahagiaan dan aspek kesejahteraan lainnya.

"Karena kami tidak mengamati hubungan antara penggunaan medsos dan kesejahteraan di antara anak laki-laki, faktor-faktor lain, seperti jumlah waktu yang dihabiskan untuk bermain game, mungkin terkait dengan penurunan yang diamati anak laki-laki dalam kesejahteraan," kata Booker.

Para penulis menemukan bahwa sepanjang nilai kebahagiaan remaja turun hampir tiga poin dari 36,9 menjadi 33,3 pada anak perempuan dan dua poin dari 36,02 menjadi 34,55 pada anak laki-laki.

Sementara, skor SDQ turun untuk anak laki-laki dan meningkat untuk anak perempuan, menunjukkan bahwa anak perempuan mengalami aspek kesejahteraan yang lebih negatif.
(tdy)
 
 SindoNews

Wednesday, May 22, 2013

6 Cara Agar Otak Makin Pintar

6 Cara Agar Otak Makin Pintar

Menurut penelitian di University of Virginia, gangguan memori bisa muncul sejak usia 20-an. Setelah mengevaluasi lebih dari 2.000 pria dan wanita berusia antara 18-60 tahun selama tujuh tahun, para peneliti menemukan bahwa pada usia 27, kecepatan otak dalam memecahkan teka-teki, dan penalaran mulai menurun.

Namun Anda tidak perlu panik. Otak masih memiliki kemampuan untuk menyimpan memori. Hanya saja pemanggilan memori tersebut sedikit tersendat. Ini menunjukkan bahwa otak harus dijaga kesehatannya agar tetap fokus dan berfungsi optimal.

Berikut 6 langkah sehat yang bisa Anda lakukan untuk menjaga kesehatan dan fungsi otak agar tetap berfungsi optimal.

Tetap Aktif

Kebugaran fisik dapat meningkatkan ukuran hippocampus (bagian otak yang terhubung dengan ingatan jangka panjang). Lakukan jenis latihan apa pun agar darah Anda mengalir dengan baik. Jogging dan renang bisa menjadi pilihan yang tepat untuk meningkatkan fungsi otak Anda.

Lengkapi dengan Omega-3

Gary Small dari iBrain menyebutkan, “Apa yang baik bagi jantung Anda, tentu akan baik untuk otak Anda”. Dia menyarankan agar Anda mengisi diet dengan makanan yang kaya antioksidan seperti buah-buahan berwarna cerah dan sayuran, ditambah asam lemak Omega-3 dari ikan dan minyak zaitun.

Pikirkan dan Visualisasikan

Berlatih dengan isyarat. Jika Anda perlu mengingat beberapa hal baik benda maupun angka cobalah untuk membuat catatan sebagai hafalan untuk memori dalam otak Anda. Catatlah hal-hal detail yang sekiranya sulit untuk Anda ingat.

Jangan Andalkan Gadget

Hampir seluruh penduduk dunia mengandalkan teknologi seperti smartphone, komputer tablet, PC dan lainnya untuk membantu mengingat hari-hari penting . Tetapi jangan lupa untuk sesekali mengingat hal-hal detail yang terkait langsung dengan diri Anda dan keluarga dengan otak Anda. Penggunaan teknologi berlebihan dapat mengakibatkan ketergantungan dan membuat otak menjadi malas berpikir.

Bermain dan Bersantai

Bermain video game tidak akan membuat fungsi otak Anda terganggu, permainan yang penuh teka-teki dapat membantu untuk memperkuat dan melatih otak Anda serta meningkatkan konsentrasi. Anda juga membutuhkan waktu bersantai dan memanjakan diri untuk mengurangi stres sekaligus meningkatkan kemampuan otak Anda.

Tidur Cukup

Tidur dapat membantu mengaktifkan kembali seluruh sel-sel otak, sehingga otak dapat menyerap dan mempelajari sesuatu lebih dalam dan lebih banyak. Peningkatan kemampuan ini secara langsung akan mempengaruhi tingkat kecerdasan seseorang, demikian yang disampaikan Dr Paul Shaw dari Washington University School of Medicine. (dan)